Tulisan ini terinspirasi ketika saya di jalan, sepulang kampus sekitar jam 3 an, saya megambil jalan memutar lewat pantai, hehehe kapan lagi saya ke pantai hanya untuk sekedar nyari pemandangan.

Nah, ketika pulang ke rumah, pandangan saya tertuju pada seorang anak kecil di jalan veteran, anak kecil ini membunyikan peluitnya ketika ada motor yang hendak keluar, ternyata anak kecil ini salah satu juru parkir.

Sebelum belok ke jalan niko, saya sempat berhenti untuk memperhatikannya, setelah beberapa menit saya perhatikan, ternyata anak kecil ini tidak begitu memperhatikan motor cliennya, anak kecil ini hanya bermain saja dengan anak lain yang sebaya dengannya (mungkin saudaranya), nah, ketika pemilik motor datang untuk mengambil motornya, barulah anak kecil ini berlarian sambil membunyikan peluit,  menunggu untuk mendapat selembar uang seribuan.

Melihat hal itu, terbayang difikiran saya, bahwa banyak sekali anak kecil yang bernasib sama di kota Makassar, fenomena ini mungkin biasa di kota metropolitan khususnya di Makassar, tapi tahu kah kita bahwa ketika anak seperti ini ditanya apakah dia senang dengan pekerjaannya, kemungkinan besar jawabannya tidak mereka tahu, jika ditanya apakah dia malu dengan pekerjaannya, maka kemungkinan besar jawabannya “tidak”, mengapa demikian, itu karena sejak kecil mereka sudah menjadi juru parkir walaupun tidak resmi, mengapa mereka menjadi juru parkir, kemungkinan besar karena faktor lingkungannya atau prediksi paling parah adalah karena orangtuanya juga seorang juru parkir yang nasibnya kurang beruntung. Semuanya itu hanya sebatas dugaanku saja.

Tapi melihat kenyataan ini, telah membuktikan bahwa masih banyak orang diluar sana yang menyumbangkan angka kemiskinan di kota Makassar, Berdasarkan data dari Badan Pemberdayaan Masyarakat Kota Makassar 2008, jumlah warga miskin mencapai 336.004 jiwa atau 62.192 kepala keluarga (KK). Kantong kemiskinan tersebar pada hampir seluruh kecamatan dan terbesar di Tamalate sebanyak 9.267 KK. Itu yang 2008, bagaimana kalau sekarang…?

Sebagai salah kota metropolitan di Indonesia, Kota Makassar juga tidak lepas dari persoalan banyaknya pengangguran. Sebagai ibu kota provinsi di Sulsel, Makassar menjadi tempat favorit bagi para pencari kerja. Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Makassar melansir data hingga November 2011 tercatat jumlah pengangguran terbuka di angka 74.000 orang. Namun angka ini menurun drastis dibanding jumlah pencari kerja pada 2007 lalu. Tiga tahun lalu, angkatan kerja produktif yang belum mendapat pekerjaan di angka 95.010 orang. Angka ini berdasarkan jumlah permintaan kartu kuning di disnaker Jl Pettarani, Makassar.

Dari kebijakan yang ditetapkan pemerintah dapat dilihat bahwa pada semua program pemberdayaan selalu disertai dengan pemberian bantuan, baik berupa modal fisik maupun berupa modal ekonomi. Dalam program pemberdayaan melalui PNPM Mandiri modal ekonomi justru digunakan untuk menguatkan modal sosial masyarakat. Paradigma pembangunan dan kebijakan penanggulangan kemiskinan yang selalu mengedepankan bantuan dan modal ekonomi ini menjadi tanda tanya besar bagi masyarakat. Apakah program pemberdayaan yang dimaksudkan pemerintah identik dengan penguatan modal ekonomi masyarakat dan seberapa besar kemajuan yang dicapai oleh masyarakat setelah menerima bantuan ?. Pada tahun 2008 dana APBN untuk mengurangi kemiskinan mencapai 80 trilyun rupiah. Namun pemerintah pun belum bisa mengevaluasi hasil yang dicapai dengan alasan banyaknya versi kemiskinan di Indonesia. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa pemberian bantuan selain memberikan dampak positif juga membawa dampak negatif. Sementara itu, kebijakan program pemberdayaan yang disertai dengan pemberian bantuan ekonomi ternyata belum bisa diukur tingkat keberhasilannya. Berdasarkan analisis terhadap kondisi-kondisi ini penulis melakukan kajian pustaka terhadap berbagai pandangan konseptual mengenai kemiskinan untuk merancang model pemberdayaan yang lebih tepat dalam mengatasi masalah kemiskinan sekaligus meningkatkan kemandirian masyarakat.

Nah… apa yang memyebabkan kemiskinan di kota Makassar tumbuh pesat

Saya berpendapat bahwa kemiskinan di kota ini disebabkan oleh kurangnya perhatian masyarakat akan pentingnya pendidikan dan keterampilan , jika berbicara soal lapangan kerja, saya kira lapangan kerja cukup tersedia disini (terbukti dengan banyaknya orang luar Makassar yang datang untuk bekerja namun skilnya kemungkinan lebih tinggi dari pada orang makassar sendiri), yang menjadi masalah adalah kriteria persyaratan kerja yang diberikan selalu meminta tingkat pendidikan yang tinggi, sehingga pendidikan perlu untuk diperhatikan.  Faktor berikutnya adalah kemalasan, motivasi kerja di Makassar bisa saya katakan cukup kontras, jelas terlihat bahwa ada beberapa orang yang tidak memiliki motivasi kerja sehingga pada akhirnya menambah angka kemiskinan.

Pada intinya adalah bagaimana pendidikan itu dapat dinikmati oleh semua orang, sehingga kelak angka kemiskinan dapat turun, percuma jika pemerintah memberikan bantuan yang langsung berupa uang atau alat usaha, sebaiknya diberi keterampilan bagaimana mengelola uang melalui usaha kecil-kecilan, atau keterampilan menggunakan alat usaha pemberian pemerintah agar kedepan dapat digunakan sesuai tujuannya, karena dilapangan sudah terbukti banyak orang penerima bantuan berupa alat usaha (kapal, traktor, dll) tapi mereka malah menjualnya.

Yang bisa saya simpulkan adalah dan tidak henti-hentinya saya katakan bahwa pendidikan itu perlu dan penting untuk masa depan yang lebih baik.

i love you

Posted: 2 November 2011 in Uncategorized

tidak kusanganka saya benar-benar suka denganmu, semula tidak ada apa-apa, saya melihatmu seperti biasa,  bahkan namamu yang terakhir saya hafal.

bermula saat jam istirahat, ruang kuliah kosong, hanya ada saya dan beberapa teman cowok, juga ada kamu dan beberapa teman cewek, ketika melihatmu… saya terkagum, kau begitu manis dan elok, bukannya mau melebih-lebihkan tapi saya yakin, siapapun pasti akan berfikiran demikian.

waktu itu terbayang beberapa pertanyaan, apakah dia sudah punya pacar, apakah dia mau berteman dekat dengan saya, paling tidak saya butuh waktu untuk mengenal dia lebih jauh lagi… namun kemudian saya mulai pesimis, mungkin ini hanya efek samping dari yang namanya pandangan pertama, hehehe.  Ok akhirnya saya memutuskan untuk melupakan pertanyaan bodoh itu dan bersikap biasa-biasa saja.

Tapi ternyata tidak…!!!, ketika melihatmu, saya kembali merasakan sesuatu yang lebih…, lebih…(mmhhh… sulit untuk menggambarkannya ), tapi yang pasti perasaan ini lebih tenang. Sejujurnya kadang saya malas mengikuti kuliah pada mata kuliah tertentu, tapi semuanya telah berubah, bukan karena saya jadi rajin mengikuti kuliah, tapi karena kamu, ya karena kamu. Kamu membuatku semangat.  Senyummu, sikapmu, caramu berbicara,… dan masih banyak lagi.

entahlah… beberapa waktu yang lalu, sebelum kuliah, saya sempat berkomitmen, belajar dengan baik selama kuliah, tidak mau terlibat dengan hal-hal yang diluar dari ruang lingkup studi, ya… salah satunya menaruh hati pada seseorang, saya paling anti sama yang begituan, tapi… hanya melihatmu, tiba-tiba semua komit itu hilang, perasaan ini menjadi lebih tenang.

hari demi hari berlalu, saya semakin suka dengan mu,  tapi saya tidak berharap lebih, saya hanya orang biasa.

ya, saya hanya orang biasa, orang yang menghargai privasi dan pendapat orang lain.

:)

 

 

Kembali lagi terjadi pelanggaran HAM berat di Ibu kota, setelah sebelumnya terjadi pembunuhan tragis yang menimpa seorang perempuan berumur 40 tahun yang dibunuh dan mayatnya dimasukkan dalam kardus TV. Kali ini pembunuhan kembali terjadi di Komplek Intercon, Srengseng, Kembangan, Jakarta Barat. Korbannya hangus terbakar.

Melihat banyaknya tindak kriminal pelanggaran HAM yang semakin lama semakin banyak, hanya berselang beberapa hari saja sudah terjadi 2 kasus pembunuhan yang dilakukan secara tragis. Apapun motif pelaku, jelas ini adalah pelanggaran HAM berat, dan sudah sepantasnya dihukum seberat-beratnya. Kepolisan harus bertindak tegas dalam menangani kasus-kasus pembunuhan yang belakangan semakin banyak.

Yah, kinerja kepolisian harus lebih ditingkatkan lagi, banyaknya kasus kriminal yang belum terpecahkan sebelumnya, membuat tingkat kriminal menjadi tinggi.

Kemungkinan pelaku kriminal berfikir bahwa mereka tidak akan tertangkap karena mereka mampu membersihkan bukti dan melakukan pembunuhan terencana dengan baik. Mereka berfikir mereka tidak akan tertangkap karena setelah melakukan aksinya, mereka langsung kabur jauh. Atau mereka berfikir polisi tidak akan mencurigai mereka karena mereka teman dekat korban.

Jika memang benar mereka berfikiran demikian, maka segenap jajaran kepolisian dipermalukan, dan dianggap tidak becus, mereka menertawakan kinerja kepolisian. Seharusnya kepolisian malu karena lawan mereka telah menganggap enteng polisi, itu terbukti dari betapa banyaknya kasus kriminal yang belakangan semakin SADIS saja, dan PARAHnya lagi banyak kasus sebelum-sebelumnya yang belum terpecahkan sama sekali.

Kami sebagai masyarakat Indonesia resah dengan banyaknya tindak kriminal dan kinerja kepolisian yang sampai disitu-situ saja. Kembali lagi kami mempertanyakan fungsi utama kepolisian RI yang seharusnya melindungi segenap rakyat RI. Saya juga menghimbau kepada orang orang yang membaca tulisan saya dan kepada seluruh masyarakat, bahwa diluar dukungan kita maka kepolisian tidak dapat efektif melakukan kewajibannya, oleh karena itu, bersama kita berantas kejahatan kriminal dan bersama kita terapkan nilai-nilai HAM di Indonesia.

Lagi-lagi kembali terjadi kasus pelanggaran HAM berat, setelah beberapa waktu lalu, terjadi kasus pemerkosaan di atas angkutan umum yang korbannya seorang karyawati , kini kasus serupa kembali lagi terjadi oleh seorang sopir tembak Edi Sitorus terhadap seorang pengasuh bayi.

Melihat kejadian ini, terbukti bahwa perhatian pemerintah terhadap HAM kaum perempuan masih kurang, terbukti dari banyaknya kasus pemerkosaan-pemerkosaan yang pelakunya tidak mendapat ganjaran setimpal, bahkan parahnya tidak sedikit kasus pemerkosaan yang tidak mendapat penyelesaian.

Salah satu kasus yang memiriskan hati saya adalah kasus pemerkosaan terhadap salah satu mahasiswa binus, Livia Pavita Soelistio yang diperkosa oleh 4 orang secara bergilir, pemerkosaan yang biadab ini dilakukan secara sadis hingga dubur korban rusak, bahkan pada akhirnya korban meninggal mengenaskan.

Sedikit saya singgung kasus kerusuhan mei 1998 Jakarta yang melibatkan ratusan perempuan tionghoa yang diperkosa secara massal, ditelanjangi didepan umum, dipukuli, dianiaya, dan dibunuh, tidak terkecuali baik tua maupun muda. Ini adalah kasus pelanggaran HAM super berat yang sampai saat ini TIDAK DIUSUT TUNTAS, bahkan pemerintah kala itu mengatakan tidak ada kasus pemerkosaan yang terjadi, menutupi fakta yang sudah jelas keakuratannya adalah tindakan bodoh, sudah jelas itu fakta malah masih mencari alasan lain, jelas kasus ini sengaja dilupakan, saya mengimbau secara pribadi kasus biadab tidak berprikemanusiaan ini bisa diusut secara tuntas.

Dengan demikian, jelaslah bahwa nilai moral, etika dan rohani yang ada dalam masyarakat sudah mulai luntur, jika terus berlanjut, mau jadi apa bangsa ini…???

Mengutip hasil penelitian Yayasan Kalyanamitra (sebuah lembaga informasi dan komunikasi masalah perempuan di Jakarta), 73% dari 185 kasus pemerkosaan yang ada, ternyata direncanakan sebelumnya. Hanya 1% kasus yang dilakukan oleh orang yang tidak waras. Dengan demikian, sebagian besar pemerkosaan dilakukan dengan sadar dan dikehendaki oleh para pelakunya. Beberapa kasus dilakukan oleh orang-orang yang dikenal dekat korban. sesuai dengan Pasal 285 KUHP, pemerkosaan dapat diancam penjara paling lama 12 tahun. Namun, dalam praktiknya, jarang ada putusan yang dijatuhkan maksimal. Paling berkisar dalam hitungan bulan saja.

Melihat akibat buruk dari pemerkosaan terutama terhadap korbannya, katanya, masalah pemerkosaan bukanlah sekadar perbuatan melanggar hukum. Namun, lebih dari itu, pemerkosaan menghancurkan harkat, martabat, dan kehormatan wanita.

Dari sisi perlindungan hak asasi manusia, pemerkosaan bahkan dikategorikan sebagai pelanggaran HAM yang keras (gross human right violation), yang menyerang kepentingan diri pribadi, kehormatan, martabat, dan hak milik seseorang.

Bila persepsi penegak hukum seperti ini, maka akan membahayakan kelangsungan hak-hak perempuan, bahkan mengancam perlindungan harkat martabat manusia. Seharusnya, tugas polisi adalah melakukan penyidikan. Pembuktian pelaku bersalah atau tidak biarlah menjadi wewenang hakim. juga putusan hakim yang dalam beberapa kasus pemerkosaan tampaknya belum berpihak kepada korban (perempuan). Dalam pemeriksaan di pengadilan, hakim tampak masih berpegang kepada pembuktian formal, tanpa pernah menyentuh persoalan-persoalan psikis yang menjadi dampak pemerkosaan bagi korban, khususnya anak di bawah umur. Bila kasus-kasus pemerkosaan tak ditangani serius oleh polisi dan hakim menjatuhkan hukuman ringan, kejahatan pemerkosaan dikhawatirkan semakin merebak. Padahal, bisa saja pemerkosa tidak hanya di proses berdasarkan Pasal 285 KUHP (yang dari sisi pembuktian sangat merugikan perempuan), tapi dikenakan juga UU Perlindungan HAM sehingga lebih komprehensif.

Untuk kasus pemerkosaan, tidak boleh ada pengecualian, setiap kasus harus berdasarkan UU Pasal 285 KUHP dan ditambah UU Perlindungan HAM agar lebih efektif, kita semua tidak ingin kasus ini kembali terjadi, tidak ada kata ampun bagi pelaku pemerkosaan.

Sebenarnya, ini bukan hal yang baru di kota Makassar, beberapa tahun yang lalu, terjadi cukup banyak konflik yang mengatas-namakan SARA di kota Makassar,baik itu skala kecil maupun skala besar, itu terjadi ketika saya belum berdomisili di Makassar, sekarang setelah lulus SMA di Bantaeng, tepatnya SMA Neg 2 Bantaeng, saya memilih melanjutkan kuliah di Makassar, lebih tepatnya kuliah di Universitas Atma Jaya Makassar jurusan Sistem Informasi angkatan 011… loh… kenapa malah melenceng topik pembicaraannya… hehehe.

Baik…, kembali ke topik. Secara umum Kota Makassar adalah Ibukota Provinsi Sulawesi Selatan dalam basis dinamika perputaran modal dalam pasar ekonomi dan mainstream politik kota Makassar merupakan sentral kekuasaan politik dan kekuasaan ekonomi sehingga dikalim oleh beberapa pemangku kekuasaan birokrasi pemerintahan sebagai Pintu Gerbang Kawasan Timur Indonesia. Kesemuaannya itu tidak terlepas dari peran masyarakat Makassar sendiri. Peran masyarakat…?, siapa masyarakat makassar ?, masyarakat Makassar adalah masyarakat yang plural, populasi penduduk kota Makassar mayoritas berpendidikan SLTP, SLTA dan untuk Pendidikan Tingkat Diploma dan Sarjana tidak dalam skala mayoritas meskipun banyak yang melanjutkan studi ke pendidikan tinggi, kepercayaan religius sebagian besar menganut Islam Muhamaddiyah, NU, Jama’ah Tabliq, Ahmadiyah, Hizbut Thahrir, Katolik dan Kristen Protestan serta Kristen Pentakosta merupkan kekuatan nomor 2 setelah Islam selain itu terdapat juga Budha dan Khonghuchu serta Hindu, suku terbesar di kota Makassar adalah Bugis dan Makassar, terdapat juga etnis lokal Toraja, Mandar, Luwu serta etnis pendatang, Bali, Jawa, Tionghoa yang sudah mendiami ratusan tahun serta etnis lain. Mata pencarian penduduk kota Makassar sebagian besar distruktur pemerintahan pejabat negara dan PNS, pegawai swasta retail, buruh dll, BUMN, Nelayan, Guru, TNI, POLRI dan pedagang. Melihat majemuknya masyarakat makassar, kadang saya berfikir bahwa Makassar sudah mencerminkan kebinekaan tunggal ika, namun makna sesungguhnya masih belum nampak terlihat ditengah kehidupan Masyarakat ini.

Sebenarnya sedih juga akhir-akhir ini melihat adanya konflik di Makassar, apalagi konflik terbaru yang murni tindakan kriminal namum disalah artikan dengan mengatas-namakan sara kembali hampir terjadi di Makassar (belakangan diketahui warga minoritas menikam masyarakat setempat), tapi pemerintah tanggap dalam menanganinya (salut buat pemerintah kota Makassar), Demikian Pemerintah, saya juga berharap Masyarakat Makassar dapat hidup damai.

Saya menghimbau masyarakat Makassar agar tidak terprovokasi disetiap aksi kerusuhan, karena disetaip kerusuhan yang terjadi dilapangan selalu diatur oleh oknum-oknum yang mempunyai tujuan pribadi, sehingga membuat segala sesuatunya menjadi sesuatu yang besar dan mengundang kerusuhan, Warga Makassar jangan mau terprovokasi, bijak-bijaklah terhadap setiap hal yang mengandung perpecahan, kita semua adalah saudara.

Jika ditanya pasti semua orang ingin hidup damai, bukankah pada dasarnya semua orang demikian, lalu kenapa harus ada konflik ?, kenapa harus rusuh ?, kenapa harus saling membenci ?, kenapa harus dendam ?, kenapa jadi bertikai ?, kenapa, kenapa dan kenapa, terlalu banyak kenapa, saya jadi bingung sendiri, tapi satu hal yang saya mengerti, yaitu ketika kita melihat diri kita masing-masing, lalu melihat orang lain yang berbeda dengan kita, lalu dengan sebuah senyuman, kita berkata “kita semua bersaudara”, maka itu adalah moment yang paling indah dalam kehidupan bermasyarakat.